Selasa, 22 Februari 2022

Menulis dengan Prinsip CLBK.

Resume Ke-: 16

Gelombang : 24

Hari/Tgl : 21 Februari 2022

Tema : Langkah Menyusun Buku Secara Sistematis

Narasumber : Yulius Roma Patandean, S.Pd.

Moderator : Muliadi


Hari ini Senin, 21 Februari 2022, kami ASN  Kementerian Agama  Kabupaten Muna menghadiri undangan Kepala Kantor Kementerian Agama, Drs. H. Kammarudin, M.Si dalam rangka "Pembinaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lingkup Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna dalam  Rangka Penguatan Moderasi Beragama Di Madrasah Dalam  Toleransi 2022."

Hadir bersama Kepala Kantor Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara H. Mustamin Zainal, S.Ag,,MA bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan dan rombongan. Pembinaan sekaligus kunjungan kerja pertama sejak dilantik sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 8 Oktober 2021. 

Dalam sambutan singkatnya, kalimat sederhana namun sangat dalam maknanya dari Pak Kanwil "Sekolah yang berkualitas bermula dari kelas yang berkualitas, kelas yang berkualitas bermula dari guru yang berkualitas. Siswa itu bukan seperti kertas habis dikerjakan lalu disimpan ditata rapi  lalu disimpan di  lemari." ungkap Pak Kanwil. Pernyataan yang menggugah hati guru. Guru yang berkualitas harus mampu mengemas kegiatan pembelajaran yang menyenangkan tanpa mengabaikan  kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual.

Malam ini masuk pertemuan ke 16 sudah melewati setengah perjalanan dalam menimba ilmu lewat dunia maya kelas belajar Om Jay. Pak Muliadi untuk yang kedua kalinya akan memandu jalannya kelas belajar menulis hingga tuntas. Narasumber pada malam ini bernama Yulius Roma Patandean, S.Pd. lahir di Salubarani Gandang Batu Sillanan Kabupaten TanaToraja, 6 Juli 1984.

 Menyelesaikan Pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggeris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007) dan pendidikan S2 di Institut Agama KristenNegeri Toraja (2019-2021. Tahun 2007-2015 mengajar di SMAN 9 Tana Toraja Tahun 2009 menjadi guru PNS dan mengajar di SMAN 3 Tana Toraja hingga tahun 2015. Tahun 2015-sekarang sebagai guru Bahasa Inggeris di SMAN 5 Tana Toraja. Ia pernah menjadi pengajar tidak tetap di Fakultas Ekonomi UKI Toraja, Tutor Universitas Terbuka dan Fasilitator Belajar Yayasan Trampil Indonesia Prestasi. 

Prestasi yang pernah diraihnya adalah Pemenang Ketiga Lomba Kreativitas Guru Tingkat SMA Pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2017. Meraih dua medali emas dan tiga medali perunggu Gurulympic PGRI tahun 2020. Guru Berprestasi jenjang SMA Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021. Pemenang kdua Lomba Video Best Practice. Mengajar Dari Rumah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021. 

Sejumlah buku yang pernah ditulisnya, Digital Transformation: GenerasiMuda IndonesiaMenghadapi Tranformasi Dunia (Penerbit Andi). Flipped Classroom: Membuat Peserta Didik  berfikir kritis,kreatif, mandiri, dan mampu berkolaborasi dalam pembelajaran yang responsive (Penerbit Andi) dan masih banyak lagi deretan buku yang diterbitkan oleh penerbit ternama.

Diawal pemaparan materi, dalam  menulis dan menyelesaikan tulisan,ia memegang prinsip CLBK

Apa itu CLBK?

1. Coba. Kata coba menurut Pak Yulius adalah kata romantis yang artinya agar sesuatu itu bisa diwujudkan maka harus berani untuk mencobanya. Dengan mencobanya akan membuat penasaran akan hasilnya. Menulis tidak bisa menjadi ala bisa karena biasa

2. Lakukan. Dengan melakukan percobaan akan muncul dorongan untuk berbuat lebih. Apakah hanya sekedar ingin mencoba saja atau melanjutkan ?  Jika hendak melanjutkan, maka LAKUKAN dengan segera. Praktekkan sekaligus, bairkan ide itu mengalir bersama jari-jari mungil kita. Melakukan proses lebih dalam membutuhkan dorongan lebih pula. Tidak hanya dorongan untuk membuat tulisan, yang lebih utama adalah niat menghilangkan rasa penasaran di pikiran. Penasaran tentang apa yang akan ditulis.

3. Budayakan. Menulis harus menjadi budaya. So, BUDAYAKAN! Bagi orang Toraja, mengenakan sarung dalam berbagai aktifitas adalah bagian dari budaya yang tidak bisa terpisahkan dari perjalanan hidup. Menulis juga harus menjadi budaya yang menyatu dalam perjalanan hidup saya dan teman-teman. Menghasilkan sebuah karya tulisan sederhana tidak bisa tercapai dengan maksimal jika didorong oleh paksaan. Membudayakan menulis adalah proses menuju karya. Sebuah buku yang terbit dari penerbit.

4. Konsisten. Budaya seperti yang khalayak ramai pahami tentunya adalah kebiasaan. Menjadi kebiasaan belum tentu pula akan memberi dampak positif jika tidak ada konsistensi pelakunya. KONSISTEN adalah langkah pamungkas dalam teori menulis yang saya anut. Budaya menulis yang baik adalah ketika kita menjadi konsisten dalam prakteknya.

"Coba, Lakukan, Budayakan, Konsisten, inilah yang saya sebut CLBK dalam menulis. Istilah ini boleh menjadi pemberi semangat dan pendorong kepada teman-teman untuk memulai, meneruskan dan menciptakan karya tulisan." Jelas Pak Yulius

"Nah, tentunya calon naskah teman-teman telah siap. PASTI YA. Minimal dari resume materi-materi yang telah disajikan puluhan narasumber sebelumnya. Lebih luar biasa lagi jika teman-teman telah memiliki naskah solo." tambahnya

Seperti apa cara sistematis dalam menyelesaikan tulisan?

Mari kita tonton videonya berikut ini.

 





" Menyelesaikan tulisan akan terjadi oleh karena konsistensi dalam menulis. Jadi, romansa menulis terasa indah ketika CLBK menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses mengumpulkan percikan-percikan ide kita, kemudian kita susun secara sistematis. Demikian sharing saya malam ini. Semoga membantu teman-teman menyelesaikan tulisan. Salam bahagia." terang Pak Yulius

Sesi Tanya Jawab

[Pertanyaan 1]. Saya sudah “ Coba dan Lakukan” untuk menulis tapi baru 3 kalimat atau 1 paragraf sudah muter-muter untuk melanjutkan tulisan

  1. Bagaimana menyambung kembali?
  2. Apa strategi untuk membuat judul yang tepat dan relevan?
  3. Bagaimana cara paling mudah atau sederhana menulis sistematis?

Jawaban 2  

  1.  Strategi menyambung kembali.... versi saya..... menulis ketika lagi senang atau tanpa beban. Memang tak bisa dihindari bahwa kadang kala kita menulis, banyak ide yang mau dituliskan di kepala kita. Tapi, saat berproses, ide-ide itu mulai raib. Ketika ide-ide sulit disambungkan, biarkan saja dulu, jangan di hapus (delete)..... ketika kita membacanya nanti saat mengedit...ide-ide itu akan menemukan tempatnya. Strategi untuk membuat judul yang tepat dan relevan. Konsisten menuliskan naskah atas judul yang telah disiapkan. Buat judul pendek/singkat. Judul yang paling berkesan biasanya lebih singkat. Judul pendek mudah diingat dan seringkali bisa lebih menggugah dan kuat daripada judul yang lebih panjang.Judul sebaiknya mudah diingat dan unik,  mudah dikenali dan tak terlupakan. 
  2. Cara paling mudah atau sederhana menulis sisetematis. Saya tak punya cara tercepat selain percaya pada diri saya sendiri bahwa saya bisa menyelesaikan tulisan itu
  3. menyambung kembali.... versi saya..... menulis ketika lagi senang atau tanpa beban. Memang tak bisa dihindari bahwa kadang kala kita menulis, banyak ide yang mau dituliskan di kepala kita. Tapi, saat berproses, ide-ide itu mulai raib. Ketika ide-ide sulit disambungkan, biarkan saja dulu, jangan di hapus (delete)..... ketika kita membacanya nanti saat mengedit...ide-ide itu akan menemukan tempatnya. 
  4. Strategi untuk membuat judul yang tepat dan relevan. Konsisten menuliskan naskah atas judul yang telah disiapkan. Buat judul pendek/singkat. Judul yang paling berkesan biasanya lebih singkat. Judul pendek mudah diingat dan seringkali bisa lebih menggugah dan kuat daripada judul yang lebih panjang
[Pertanyaan 2]
  1. Sebagai penulis pemula..kendala penulis menjaga konsistensi itu  menjadi kendala pak, bagaiman cara menumbuhkan konsistensi dalam menulis ini,?
  2. Apakh setelh buku solo ini terbit ..dan langkah selanjutnya seperti apa pak.alangkah ironi jika buku solo hanya dinikmati pengarangnya sendiri..bagaimana untuk mengembangkanny pak? Terimkasih
Jawaban 2
  1. Cara menumbuhkan konsistensi dalam menulis ini: fokus, bangun minat menulis dan miliki motivasi bahwa saya harus menghasilkan sebuah buku ber-ISBN. Awalnya memang tersendat oleh karena banyak faktor, seperti pekerjaan, capek, kegiatan sosial, dll. Konsistensi akan ada seiring minat menulis telah ada. Jika ada kendala, jangan mundur. 
  2. Buku solo, sebagai buku pertama, biasanya penulisnya sendiri malu-malu hehehe. Mulailah promosikan ke rekan-rekan kerja di sekolah atau komunitas. Tulisan ada pembaca atau tidak, sebenarnya menunggu waktu. Akan ada masanya buku itu terbaca. Ambil hikmahnya saja bu, terus menulis, pasti bisa. Selama niat menulis ada
[Pertanyaan 3] 
Langkah sistematis apa yang bisa dilakukan biar kita bisa menulis dengan cepat?

Jawaban 3. 

Langkah sistematis sederhana sebenarnya sudah disipkan di Microsoft word pak. Hmm..kebetulan saya mencobanya seperti yang ada di link YouTube yang saya kirimkan.  Selebihnya mungkin ada sumber-sumber lainnya. Terima kasih.

[Pertanyaan 4]

  1. Adakah trik memilih sub judul yang tepat supaya antara bab 1 dan lainnya tulisan saling terkait?
  2. Bagaimana supaya buku yang kita buat banyak disukai pembaca

Jawaban 4

1. Trik saya adalah membaca naskah ketika mengedit. Contoh: Bisa saja Bab 5 cocoknya ada di Bab 2. Demkian halnya dengan sub judul. Kadang sub judul itu ada di bab lain, tapi cocoknya di bab sebelum atau sesudahnya. Dan tidak menutup kemungkinan, ada sub judul yang justru menjadi Bab. Ini terjadi ketika kita menulis tanpa outline yang ditentukan sebelumnya. Namun jika sebelumnya sudah ada outline penulisan, maka kita akan fokus.

2. Perbanyak promosi saja, misalnya lewat media sosial. Adakan kampanye menulis buku di sekolah, dengan demikian teman-teman lain akan penasaran. Selebihnya…cetak buku dan simpan di perpustakaan sekolah. Memulai dari hal-hal kecil.

[Pertanyaan 5]

Yang ingin saya tanyakan adalah apa langkah penulisan secara sistematis ini hanya untuk tulisan nonfiksi saja? Atau bisa juga untuk tulisan fiksi? 

Jawaban 5

Langkah-langkah tersbut bisa diterapkan untuk tulisan fiksi bu. Yang membedakan nantinya adalah tidak adanya sub judul/ kurangnya subjudul di tulisan fiksi. Bahkan untuk Thesis pun bisa diterapkan bu. Selamat menulis dan selamat mencoba.

[Pertanyaan 6]

Baik pak, ada sedikit ganjalan sebagai penulis pemula terkait dengan teknik penulisan buku yg bisa diterbitkan penerbit mayor sebagaimana jejak pak Roma selama ini yang mampu menulis buku bersama Prof. Eko, bahkan ada 2 buku (Digital Trasformation dan Flipped Classroom). Bagaimana mensistematisir suatu sub tema menjadi satu kesatuan yang utuh, terutama dalam menulis buku Digital Transfrmation yang saya liat di Toko Buku Andi Jogja sangat tebal daripada buku-buku hasil kolabs bersama Prof Eko yg lainnya.

Jawaban 6

Terkait buku yang terbit di penerbit mayor…sepertinya ada materinya dari Penerbit ANDI. Boleh dikata saya beruntung pak, diajak menulis oleh prof. Eko yang kemudian diterbitkan di penerbit mayor.hehehehe. Kemudian, saya diajak lagi prof. Eko menulis buku ajar untuk Universitas Terbuka. Sementara saya edit dan perbaiki naskahnya sesuai permintaan UT. 

Kemudian, buku Digital Transformation itu tebal karena saya selalu menambahkan topik-topik yang ada kaitannya dengan judul. Dan luar biasanya prof. Eko dan penerbit ANDI tak pernah menolaknya.

[Pertanyaan 7]

a. Bagaimana caranya mengatur waktunya untuk bisa menulis di antara kesibukan lainnya? 

b. Bagaimana cara kerja yang biasa dilakukan ketika ada ide, lalu menuangkan nya dalam tulisan sampai mengedit nya. Apakah sudah di siapkan dari awal apa yang mau ditulis secara sistematis atau nanti baru diatur saat proses self editing?

c. Apa yang perlu disiapkan dalam proses penulisan terutama menyangkut bahan (foto, gambar, dll) dan sumber pustaka?

Jawaban 7

a. Ini pertanyaan sulit. Saya mulai kena imbas tulisan tidak selesai. Hehehe. Selama ini saya fokus menulis di akhir pekan dan hari Minggu selepas ibadah. Waktu lainnya saya manfaatkan jam tidak masuk di kelas di sekolah. 

b. Ada ide,langsung tulis pak. Taka da kertas, rekam di HP pak. Itu yang saya lakukan..ketika sudah mencapai 40 halaman A5..saya membacanya kembali dan memberikannya judul.  Baiknya menulis itu ada Outline, walaupun outline itu bisa berubah seiring isi tulisan. Selama ini, saya memilih self editing dengan tetap mengikuti pedoman dari penerbit. Nanti penerbit yang memberikan penyesuaian seperlunya.

c. Baiknya gunakan foto karya sendiri. Jika gambar dari internet, pilih yang creative commons. Jika mengutip, cantumkan di daftar pustaka. Bukan hanya dari buku, termasuk dari jurnal dan sumber internet lainnya. 

[Pertanyaan 8]

1. Apakah tulisan yang kita anggap biasa saja bisa menjadi tulisan yang dicari pembaca?

2. Bagaimana memahami siapa sasaran pembaca dari naskah yang akan kita tulis?

Jawaban 8

1. Betul sekali bu. Tulisan yang kita anggap biasa saja bisa menjadi tulisan yang dicari pembaca. Akan ada waktunya sampai pada jodohnya. Menulis sebaiknya tidak memakai judul viral di TikTok “Aku Bukan Jodohnya.” Hehehe. Setiap tulisan akan menemui pembacanya sendiri. Jadi, tuliskan saja bu. 

2. Ini susah saya jawab. Hehehe. Karena sampai sekarang saya tidak bisa memetakan pembaca buku saya. Oleh karena buku-buku itu buku non-fiksi. Jika arah tulisan kita sebagai pekerjaan yang menghasilkan, maka tentunya kita perlu memahami kemauan pembaca. 

Diakhir materi, Pak Yulius mengatakan,

"Jangan berhenti menulis sebelum terbit buku ber-ISBN. Fokus pada penyelesaian tulisan. Abaikan pembaca dan jumlahnya. Percaya diri pada kemampuan menulis pribadi lepas pribadi. Setiap penulis memiliki takdir tulisannya sendiri. Dan..... selalu siap CLBK kapan pun dan di mana pun." 

Salam sukses buat @Wijaya Kusumah yang tidak lama lagi akan menjalani Ujian terbuka program S3.

Moderator kita, pada malam ini menutup dengan sebuah pantun indah menyemangati kelas BM 23 dan 24

Bambangan hitam burung perkutut

Yang empunya sang konglomerat

Walaupun malam semakin larut

Semangat pesertanya makin kuat


Salam Blogger 

Raha, 21 Februari 2022

2 komentar:

Kurindu bayangmu

Sontak aku berdiri dari tempat dudukku begitu namamu disebut. Belum selesai dibaca Innaa lillaahi Wa Inna ilaihi rooji'uun. Telah.....ke...